PEMIMPIN IDEAL

Begitu keluar dari rumah kita disuguhi dengan pemandangan aneka ragam “promosi diri” dari para calon legislatif yang akan bertarung dalam pemilihan umum April tahun 2009 ini. Mereka mencalonkan dirinya untuk tampil memimpin bangsa ini, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun tingkat pusat. Di media massa demikian pula halnya, bahkan media elektronik dalam bentuk facebook, friendster dan sebagainya. Secara pribadi, saya komentari bahwa ini kesempatan baik bagi para pemilih untuk menentukan dari banyak pilihan, dan pada akhirnya memilih yang terbaik di antara mereka. Namun masih sering menjadi masalah ialah kriteria yang terbaik, yang bagaimana?

Secara iseng saya buka internet, mencari tahu penilaian dan pengetahuan orang tentang diri saya, dan ternyata muncul ulasan tentang kriteria pemimpin yang saya pernah bawakan dalam suatu event internasional. Walaupun pertemuan itu dihadiri oleh peserta dari berbagai Negara dan berbagai suku bangsa dari luar Makassar, namun penyajiannya tentang kearifan lokal yang berlaku bagi suku Bugis-Makassar. Saya pikir, bahwa ada baiknya, saya bagi pemikiran itu untuk menjadi bahan pertimbangan bagi calon pemilih tentang kriteria itu karena kelihatannya dapat diterima secara umum.

Dalam budaya Sulawesi Selatan, dikenal adanya konsep pemimpin “assulapa appaka” atau pemimpin yang berdimensi empat. Keempat dimensi yang dimaksud adalah bahwa pemimpin wajib memiliki empat sikap dasar yaitu dia jujur (lambusuki), dia berani (barani), dia kaya (kalumanyangangi), dia cerdas (caraddeki). Empat dimensi ini bila bergabung dengan sempurna akan membentuk Tu Panrita (manusia paripurna/insan kamil).

Pengertian dari keempat dimensi itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

“Lambusuki” (dia jujur)

Lambusuki atau dia jujur mengandung sifat mengatakan yang benar dan tidak suka berbohong, akkontu tojengi (dia bekerja dengan penuh kesungguhan dan bertanggung jawab), baji bicarai (dia bicara yang benar/baik), tutui ri kanakananna (dia cermat dalam bertutur), tunai ripanggaukangna (dia sederhana dalam perbuatannya), appanggaukang bajiki (dia melakukan perbuatan yang bermanfaat). Seorang pemimpin yang jujur mencerminkan pribadi pemaaf, dan tidak pendendam, artinya jika orang berbuat salah padanya dia lantas memberi maaf, sepanjang orang yang berbuat salah itu mengakui secara jujur tentang kesalahan yang diperbuatnya. Jika diserahi amanat dia tidak khianat, dan jika bukan haknya dia tidak menserakahinya. Dia bekerja untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk dirinya sendiri.

Barani (berani)

Barani” sebagai sifat pemimpin ideal pada prinsipnya adalah tidak takut menghadapi segala macam risiko. Keberanian ini hanya dapat dimiliki karena yang bersangkutan percaya diri dengan modal “kalambusang” (kejujuran), dan tanpa pamrih. Sifat pemberani pada hakekatnya mengandung empat unsur yakni tammallakkai nipariolo (tidak takut jadi pelopor), tammallakkai nipariboko (tak takut berdiri di belakang) dalam artian memberi kesempatan kepada orang lain yang lebih potensial ataupun dalam rangka pengembangan potensi orang lain, tammallakkai allangngere kabara (tak gentar mendengar kabar yang baik maupun buruk, menerima kritik dan saran dari orang lain, berjiwa besar dan mempunyai sifat ingin tahu), serta tammallakkai accini bali (tak gentar dalam menghadapi lawan -baik dalam berunding maupun berperang-, tegas dan konsisten). Sifat barani ini sangat jauh dari sifat negatif yang sering ditimpakan secara sinis kepada orang Makassar, yaitu “pabbambangangi na tolo” yang artinya temperamental lagi bodoh. Sifat terakhir yang disebutkan ini perlu dilawan dengan sifat-sifat baik yang pada hakikatnya dimiliki oleh orang Makassar.

Kalumanyangangi (dia kaya)

Kaya, bukan hanya berarti banyak harta di bidang materi akan tetapi menyiratkan pada sifat yang tamakurangi ri nawa-nawa (dia tidak kehabisan imajinasi, senantiasa berinisiatif dan penuh kreativitas dan inovatif), tamakurangi ri bali bicara (dia tidak kekurangan jawaban, kaya akan pengetahuan), masagenai ri singkamma gau (dia mahir dan terampil dalam setiap pekerjaan), tamakkurangi ri sikamma pattujuang (dia tidak kekurangan usaha karena memiliki modal).

Caraddeki (dia cerdas)

Manusia cerdas menurut konsep ini bukan hanya karena secara formal dia sudah tamat sekolah lanjutan atas, tetapi manusia yang mempunyai sifat ini adalah manusia yang piawai dalam mengelola segala permasalahan yang dihadapinya. Cinta pada perbuatan yang memberi manfaat; orangnya suka pada kelakuan yang menimbulkan kemaslahatan. Manusia semacam ini jika menemukan permasalahan selalu berusaha mengatasinya secara baik, dan jika melaksanakan segala sesuatu selalu berhati-hati.

Manusia yang memiliki dan mengamalkan keempat sifat ini secara menyeluruh akan menjadi Tu Panrita, menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Sudah barang tentu manusia yang utuh adalah manusia yang senantiasa memelihara dan mengembangkan fitrahnya sebagai manusia. Hanya manusia seperti ini yang akan terbebas dari alienasi maupun tipu daya dunia yang seringkali menyesatkan.

Kesemua kriteria itu dapat diketahui dan diniliai berdasarkan perbuatan yang bersangkutan selama hidupnya, dan selama memangku jabatan yang pernah disandangnya.

 

Makassar, 30 Januari 2009

3 thoughts on “PEMIMPIN IDEAL

  1. betul Prof…sifat-sifat seperti inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin di negeri ini. jika dilihat dalam kenyataannya sekarang ini sudah jarang pemimpin yang sanggup dan memiliki ke empat sifat tersebut dalam dirinya. mereka hanya sekedar mengumbar janji-janji tentang apa yang akan dilakukan ketika terpilih jadi pemimpin demi terciptanya pencitraan yang baik bagi dirinya, tapi ketika sudah memimpin mereka lupa tentang apa yang pernah yang dijanjikannya. saya juga pernah mendengar bahwa dalam adat Bugis ada juga konsep kepemimpinan yang ideal sebagaimana yang Prof kemukakan di atas. konsep itu merupakan fappaseng (pesan) dari La Mellong Kajao Lalliddong (penasehat kerajaan Bone) yang bila diterjemahkan menyatakan pemimpin yang baik itu memiliki perhatian yang besar kepada rakyatnya dibanding perhatian kepada dirinya sendiri, pemimpin itu memiliki kecerdasan untuk melayani orang banyak, dan pemimpin itu harus jujur dalam segala tindakannya. dan bagi saya, di atas segalanya, pemimpin itu harus menganggap bahwa jabatannya adalah titipan tugas dari Tuhan yang harus dijalankan dengan baik dan setiap pemimpin harus memiliki sifat “taro ada’, taro gau” (apa yang diucapkannya sejalan dengan yang dilakukannya).
    terus menulis dan terus berkarya Prof…
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Mahyuddin

  2. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    di masa modern seperti ini mungkin kita sangat sulit menemukan pemimpin yang mempunyai ciri dan karakter assulapa appaka . menemukan pemimpin seperti itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami… saran saya adalah dengan menyiapkan para generasi muda sekarang dengan pendidikan akademis,moral dan religius karena dengan itu kita bisa mendapat pemimpin ideal yang bisa membawa bangsa ini menuju kesejahteraan yang merata di madyarakat

    terima kasih prof atas artikelnya.. semoga bisa menjadi renungan untuk pemimpin kita ..

    Jazakumullahu Khairan katsiran

    Muhammad Fatwa Sara Bitu

  3. assalamualaikum
    sebuah situasi yang sulit ketika mencoba menerapka semangat assulapa appaka di kalangan birokrat di negeri kita

    terima kasih artikelnya prof

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>