OLOK-OLOKA LAGI NANIAK PACCENA (Sedangkan hewanpun Punya Rasa Iba/Solidaritas)

Manarik topik perbincangan yang ditayangkan oleh TV Metro dua malam yang lalu tentang judul ini. Apalagi salah satu pembicaranya adalah Bapak Din Syamsuddin, Ketua DPP Muhammadiyah yang menurut pengakuannya sebagai orang Makassar. Nenek moyang beliau menyingkir ke Afrika bersama-sama dengan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, menyebarkan ajaran Islam dengan pengikut yang sangat banyak dan pada akhirnya di makamkan di sana.

Kata “olok” dalam Bahasa Makassar kalau berdiri sendiri berarti ulat akan tetapi kalau disebut berulang menjadi “olok-olok” maka berarti hewan. Oleh sebab itu dapat dimengerti kalau dalam perbincangan malam itu beliau seakan berbincang tentang ulat, dan beliau secara terus terang menyatakan bahwa walaupun beliau orang Makassar tetapi tak ada kata Makassar lagi yang diketahuinya.

Kata “pacce” berarti iba, solidaritas. Kata “pacce” biasanya disandingkan dengan “Siri’” sebagai sifat utama yang wajib dimiliki oleh orang Bugis Makassar. Konon, orang-orang tua kita dahulu menyatakan bahwa manusia yang tak memiliki “siri” dan “pacce” bukanlah manusia yang sesungguhnya.

Apa makna yang terkandung dalam topik itu? Menurut beliau hal ini adalah suatu sindiran bagi oknum penguasa yang berperilaku terbalik yang mengenyangkan dirinya sebelum rakyatnya makan. Akibatnya ialah terjadinya korupsi pada semua tingkatan karena “induk” dari setiap tingkatan itu berusaha terlebih dahulu lebih kenyang lagi walau sesungguhnya yang bersangkutan sudah kenyang.

Kalimat topik juga merupakan sindiran bagi orang-orang kaya yang semakin menumpuk kekayaan sementara sekitarnya terdapat banyak orang miskin dan tidak rela berbagi kepada masyarakat sekitarnya.

Kalimat tersebut seakan mengajak kita untuk memperhatikan perilaku hewan misalnya induk ayam yang mencari makan dan begitu mendapatkan makanan maka yang terlebih dahulu menikmati makanan itu adalah anaknya. Nantilah setelah induknya kenyang barulah induk itu ikut makan. Juga hewan lain berperilaku seperti itu juga.

Jadi kalau sedang hewan memiliki sifat baik seperti itu, mestinya manusia sebagai makhluk yang lebih mulia seharusnya melebihi dari itu?

Wallahu alam!

PENGELOLAAN ALAM DAN HASILNYA

Ada dua kejadian penting yang seyogyanya menjadi perhatian kita termasuk mahasiswa. Yang pertama ialah tertangkap tangannya Ketua SKK Migas karena menerima gratifikasi dari seorang pengusaha asing. Pengusaha asing termasuk berkepentingan agar Ketua SKK Migas mengubah kebijakannya dengan harapan agar perusahaan asing itu memperoleh keuntungan yang besar. Gratifikasi tersebut juga memberikan keuntungan pribadi kepada Ketua SKK Migas. Pada hal, migas adalah salah satu kekayaan alam yang seharusnya dinikmati dan untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Hal kedua ialah musibah banjir yang melanda seluruh Indonesia. Yang paling parah adalah Manado dan Jakarta. Kentara bahwa terjadi disharmonisasi antara alam dan manusia. Manusia sebagai halifah di atas bumi seyogyanya mengelola alam dengan suatu kearifan. Mungkinkah karena ketiadaan peraturan, atau ketamakan orang, atau ada penyebab lain.

Kedua hal yang disebutkan terdahulu wajib dikritisi oleh insan akademikus.

ADA APA DENGAN BANGSAKU?

Seorang Menteri telah dijadikan tersangka, bahkan ditahan oleh KPK dengan sangkaan terlibat dalam Tindak Pidana Korupsi Proyek Hambalang. Seorang Ketua Mahkamah Konstitusi telah tertangkap tangan menerima gratifikasi dari seorang Anggota DPR-RI, dan pada akhirnya ditahan oleh KPK. Seorang Ketua SKK Migas, juga disangka telah menerima gratifikasi sehingga ditahan. Seorang Ketua Partei telah disangka melakukan perbuatan pencucian uang dan ditahan, dan pada akhirnya dijatuhi hukuman berat. Seorang Anggota DPOR-RI telah diadili, bahkan dengan putusan tetap dari MA telah dijatuhi hukuman dan denda yang berat. Dan masih banyak lagi. Di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan diberitakan oleh media telah terjadi korupsi bersekongkol dalam kasus bantuan sosial. Dana yang seharusnya ditujukan kepada rakyat miskin dan/atau menderita dikorupsi oleh petinggi eksekutif yang bersekongkol dengan legislatif.
Begitu banyak kasus dan kelihatannya akan bertambah lagi.

Mereka semua telah menerima gaji dan fasilitas sangat besar tentunya dengan harapan agar mereka tak mencari lagi pendapatan lain diluar itu. Mereka telah melalui seleksi yang ketat yang berarti bahwa mereka adalah orang-orang terbaik dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi sehingga seyogyanya dapat membedakan mana yang baik dab mana yang buruk. Mereka kebanyakan telah melengkapan rukun agamanya sehingga seyogyanya dapat membedakan  mana yang halal dan yang haram. dan masih banyak lagi. Continue reading

Harus Memilih Siapa yang Menjadi Wakil Rakyat dan Memimpin Negeri ku ini?

Harus Memilih Siapa yang Menjadi Wakil Rakyat dan Memimpin Negeri ku ini?
Oleh : Kevin A. Guricci (B111 13 547)

Kemunduran mental atau moralitas bangsa, terutama di kalangan pejabat, terlihat pada kasus-kasus korupsi, kolusi, nepotisme yang terus mengalami regenerasi. Pejabat, baik di pusat maupun di daerah banyak yang menjadi benalu bagi negara.

Tiap hari di negeri ini baik melalui media cetak ataupun elektronik ,hanya memberitakan masalah kasus-kasus yang mana dapat merugikan dan mengambil hak orang lain. Mulai dini ini kasus-kasus para tikus-tikus kotor terungkap sedikit demi sedikit, terkuaknya kasus-kasus megakorupsi menunjukkan Indonesia belum merdeka dari korupsi. Pasalnya, ketika kasus-kasus megakorupsi seperti Hambalang belum terselesaikan, kini terkuak kasus korupsi pada sektor migas, salah satu penyumbang terbesar anggaran negara disamping pajak dan Ketua Mahkamah Konstitusi diduga menerima suap dan dijebloskan ke tahanan. Terungkap bahwa dia bersekongkol dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Continue reading