Jan 26 2012
SEMANGAT BARU
Sore hari sekitar pukul 16:00 saya mendapat telepon dari Menantu Keponakan saya Daeng Rela bahwa ada beberapa orang yang minta waktu bertemu sebentar malam. Tentu saja saya iakan karena memang kebetulan tidak ada jadwal acara malam itu.
Pendek kata sekitar pukul 19:00 tamu yang dimaksud telah datang yang terdiri atas Hj Nuraeni Makmur Daeng Senga (teman se fakultas yang sekarang menduduki jabatan Sekretaris DPR-D Makassar), Hajja Sittiara Daeng Kinang (sekarang menduduki jabatan Ketua Badan Kepegawaian Makassar), dan dua orang lagi yang saya agak lupa namanya. Mereka adalah tokoh masyarakat Takalar yang sedang berkiprah di dalam pemerintahan.
Sebagai orang yang tidak lagi menduduki jabatan apa-apa lagi karena persyaratan umur, dan mungkin karena factor usia sehingga semangat saya yang selama ini menggebu-gebu, kini mulai kendur. Akan tetapi saya tidak dapat menyembunyikan rasa senang didatangi oleh tamu saya malam itu. Apalagi setelah mereka menyampaikan maksudnya membawa undangan dari Ir Ilham Arief Sirajuddin,MM (sekarang menduduki jabatan Walikota Makassar) untuk bersilaturrahmi dengan keluarga beliau di rumah jabatan/Baruga Anging Mammiri.
Ada dua hal yang membuat saya senang, yaitu bahwa sebagai warga kota, undangan seorang walikota untuk bertandang ke rumah beliau adalah suatu kehormatan. Diundang ke rumah oleh lurah, camat bahkan ketua rw pun kita sebagai warga akan merasa senang. Apalagi yang mengundang adalah walikota.
Hal kedua ialah bahwa selama tidak lagi memegang amanah dalam jabatan formal, sudah teramat kurang pejabat penguasa yang punya jiwa besar menyapa saya. Bahkan orang awampun juga sudah jarang yang mau berkunjung. Hal itu saya anggap sebagai sesuatu yang manusiawi. Ada banyak manusia pada jaman sekarang ini yang hanya mau melakukan hubungan silaturrahim pada saat orang lainnya masih mempunyai jabatan, kekuasaan, dan kekayaan.
Sikap Walikota Makassar yang mengundang saya ini saya anggap sebagai sesuatu yang istimewa karena alasan yang saya kemukakan tersebut. Yang lebih istimewa lagi ialah karena sewaktu telah sampai di Baruga Anging Mammiri, saya didaulat untuk memberikan sambutan atas nama tokoh masyarakat Makassar yang berasal dari Kabupaten Takalar. Sangat luar biasa. Secara spontan saya kemukakan bahwa dengan kejadian ini membuat saya memiliki kembali SEMANGAT BARU dalam menjalani kehidupan ini.
Tentang ketokohan saya secara formal mungkin dapat diragukan, karena dalam struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat PERMATA (Persatuan Masyarakat Takalar) yang Ketua Umumnya adalah Bapak Moh. Roem,S.H.,MSi (sekarang menduduki jabatan Ketua DPR-D Sulawesi Selatan) saya dan teman-teman hanya duduk sebagai Dewan Pakar. Pada hal organisasi soasial ini digagas dari rumah ke rumah bersama beberapa orang tokoh masyarakat asli Takalar antara lain Prof Rahmawati Naja, Prof Dr Nadjamuddin Harun, Faried Suaib, Rifad Suaib, drg Karim dan lain-lain. Saya percaya bahwa para tokoh asli Takalar ini tahu betul “filosofi” pebentukan PERMATA.
Oleh sebab itu maka kehadiran saya yang sekaligus diberi amanah oleh para tokoh masyarakat asli Takalar memberikan sambutan dalam silaturrahmi tersebut teramat istimewa dan tidak hanya merupakan hadiah akhir tahun buat saya akan tetapi juga buat masyarakat Takalar yang hadir pada malam itu. Tokoh masyarakat tua yang hadir yang duduk semeja dengan Pak Walikota, rata-rata sudah tidak punya kekuasaan, kekuatan dan pengaruh, persis sama layaknya dengan saya. Akan tetapi, kami mendapat undangan penghargaan untuk hadir berbaur dengan tokoh masyarakat baik yang masih muda, yang setengah umur dan bahkan remaja. Kami para orang tua bahkan disediakan kursi tersendiri.
Tampaknya, Bapak Ir Ilham Arief Sirajuddin MM, adalah manusia yang betul-betul ARIEF, dan masih tetap berpegang teguh pada Kearifan Lokal Bugis-Makassar. Bukankah orang tua kita membekali kita ajaran SIPAKATAU, dengan makna menempatkan seseorang pada posisinya sebagai TAU (Manusia Bermartabat), tanpa mengutamakan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh “manusia”, kecuali senioritas yang berarti “telah ada sedikit” pengabdian yang pernah dilakukannya. Beliau telah menempatkan manusia pada tempatnya.
Saya yakin bahwa gagasan beliau membawa Kota Makassar manjadi Kota Dunia tanpa meninggalkan Kearifan Lokal sebagai jati diri adalah gagasan yang perlu didukung oleh seluruh anggota masyarakat. Bahkan menurut saya, gagasan ini perlu diwujudkan pada tingkat yang lebih tinggi menjadi gagasan untuk Sulawesi Selatan. Contoh suksesnya suatu negara dengan pola seperti ini telah dipraktekkan oleh negara maju, antara lain oleh Jepang. Mereka telah begitu maju terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan dalam berbagai segi melebihi kemajuan negara maju lainnya. Akan tetapi dalam sektor kebudayaan, mereka berpegang teguh pada Kearifan Lokalnya. Insya Allah, kalau impian dan gagasan Bapak Ilham Arief Sirajuddin ini dapat diwujudkan dan dilanjutkan maka tak berlebihan kalau beliau termasuk orang-orang yang mengharumkan nama kita semua sebagai PERMATA DARI TIMUR.
Kalau Negara ini mau maju maka orang seperti Ilham Arief Sirajuddin adalah pilihan pemimpin yang tepat. Pada waktu saya masih aktif sebagai Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, beliau telah memperlihatkan kepeduliannya di bidang pendidikan tanpa gembar-gembor, kecuali dengan sikap nyata. Beliau rela mendahulukan kepentingan pendidikan di bandingkan dengan acara lainnya, termasuk kepentingan dirinya dalam berobat. Saya percaya itu karena saya telah mengalaminya bersama beliau. Saya sebagai insan kependidikan berkeyakinan bahwa bangsa ini seyogyanya dibangun oleh orang seperti beliau yang sangat peduli kepada kepentingan pendidikan.
Saya harap semoga pembacaku yang budiman dan berpendidikan bisa mendapatkan Ilham dari tulisan ini untuk menjadikan Kearifan Lokal sebagai pegangan demi terwujudnya semangat baru untuk sukses Sulawesi Selatan kedepan. Insya Allah.
